Warga Sukabumi ‘Talangi’ Tugas Negara, Bangun Tanggul Rp 500 Juta Demi Selamatkan Rumah dari Amblas
- account_circle Firmansyah
- calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

FOTO: Warga Sukabumi Rogoh Rp 500 Juta Bangun Tanggul Sungai Cegah Banjir.(Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUKABUMI, BacainD.com – Warga Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, mengambil langkah luar biasa demi menyelamatkan rumah mereka dari ancaman abrasi Sungai Ciseureuh.
Dengan gotong royong, mereka membangun tanggul beton, bahkan seorang warga rela merogoh kocek hingga Rp 500 juta untuk menutupi kekosongan peran pemerintah.
Aksi ini muncul sebagai respons atas lambannya penanganan bencana di Kabupaten Sukabumi.
Abrasi hebat pasca banjir bandang tahun 2024 telah menggerus daratan selebar 20 meter, meninggalkan beberapa rumah menggantung di tebing curam sungai.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Sangrawayang, Heris Sponga, mengungkapkan kekecewaan warga.
“Ini untuk meringankan pemerintah. Faktanya, mereka cuma datang lihat-lihat, tanpa solusi konkret. Pak Atok berani berkorban hampir Rp 500 juta demi menyelamatkan rumah warga. Kalau tidak dibeton, rumah-rumah ini pasti habis,” katanya pada Minggu (8/2/2026).
Pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) beton dilakukan secara swadaya, bukan untuk mempersempit sungai seperti tuduhan di media sosial, melainkan sebagai upaya terakhir menyelamatkan delapan rumah dari ancaman hanyut.
Ruyatna, warga Kampung Cisaat, menyaksikan langsung bagaimana ganasnya sungai menghanyutkan fasilitas MCK hingga kandang domba milik penduduk.
Ia menegaskan, tanah yang kini dibeton memiliki legalitas sah dan dulunya merupakan daratan berbukit sebelum terkikis arus.
“Ini bukan menanggul sungai, tapi mengamankan aset Pak Atok dan warga sekitar. Alhamdulillah, warga terbantu,” ujarnya.
Camat Simpenan, Supendi, mengakui keterbatasan pemerintah dalam bergerak cepat.
“Kalau menunggu anggaran, prosesnya akan sangat lama. Jadi ketika ada masyarakat berinisiatif, kami tentu berterima kasih,” ujarnya.
Dampak abrasi tak hanya mengancam rumah warga. Jembatan milik pemerintah provinsi, jalur vital menuju kawasan Geopark Ciletuh, juga berisiko terdampak.
Tanpa inisiatif warga membangun TPT, akses transportasi publik diprediksi akan terganggu parah.
Hingga kini, pembangunan tanggul swadaya itu terus berjalan, menjadi bukti nyata ketangguhan warga dalam menghadapi bencana, sembari menunggu langkah konkret pemerintah yang tak kunjung tiba.
Penulis Firmansyah
Firmansyah merupakan seorang wartawan resmi di BacainD.com Firmansyah merupakan seorang Kepala Biro (KA-BIRO) untuk Kota dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Saat ini belum ada komentar